Keterangan fhoto : Plt Bupati Hj Ellya Rosa Siregar ,S.Pd.MM, Berdampingan dengan Plt Kadis Kesehatan Labuhanbatu Friska E. Simanjuntak, SKM, MKM dan Kaban Bappeda Kabupaten Labuhanbatu Hobbol Z. Rangkuti,saat melaksanakan aksi 1 dan 2
Gelorakyat.com – Labuhambatu
Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu berusaha untuk memenuhi cakupan presentasi penurunan angka stunting di tahun 2024 sesuai keputusan Presiden RI nomor 72 tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting, mengingat Masih tingginya target angka penurunan stunting yang harus dipenuhi oleh Kabupaten Labuhanbatu.
Ketua Tim percepatan penurunan stunting Hj. Ellya Rosa Siregar, S.Pd,MM, mengatakan, saat ini Kabupaten Labuhanbatu adalah salah satu Kabupaten yang menjadi prioritas penanganan stunting di Sumatera Utara. Kabupaten Labuhanbatu sesuai dengan hasil survei status gizi Indonesia tahun 2021 memiliki prevalensi stunting 27,0% dan pada tahun 2023 hasil survei kesehatan Indonesia Kabupaten Labuhanbatu berada pada prevalensi stunting 20,2%.A.
Dari hasil tersebut untuk Kabupaten Labuhanbatu mampu menurunkan 3,7%, sedangkan target Nasional yang telah ditetapkan untuk Kabupaten Labuhanbatu pada tahun 2024 ini sebesar 15,61%.
“plt Bupati Labuhanbatu ,juga ketua Tim percepatan penurunan stunting (TPPS) berharap kepada seluruh OPD yang terlibat agar dapat melakukan kegiatan-kegiatan yang lebih menyentuh kepada masyarakat yang prevalensi stunting di Kabupaten Labuhanbatu turun sesuai dengan harapan kita,” ujarnya.
Lanjut Plt. Bupati, Labuhanbatu Hj Ellya Rosa Siregar ,S.Pd.MM. mengatakan dalam upaya penurunan stunting semua itu diperlukan kerjasama dengan semua OPD, bukan hanya satu atau dua OPD saja yang menangani. Dengan ini saya harap dapat melibatkan pihak ketiga agar dapat mempercepat penurunan angka stunting di Kabupaten Labuhanbatu.pintanya.
Mengakhiri bimbingan dan arahannya, Hj Ellya Rosa berpesan kepada seluruh instansi yang terlibat di dalamnya agar dapat melakukan langkah-langkah konkrit untuk konvergensi program tahun 2024 sebagai tahun terakhir.
“Dan Plt Bupati juga Ketua dari TPPS berpesan manfaatkan dana yang dianggarkan dalam penanggulangan stunting ini untuk mendukung pelaksanaan upaya konvergensi program atau aksi konvergensi melalui koordinasi antara Bappeda, Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa serta dinas terkait lainnya, dan memberikan arahan bagi Kelurahan atau Desa dalam mengoptimalkan pemanfaatan Dana Desa dalam pengoptimalan penurunan prevalensi stunting di Kabupaten Labuhanbatu sesuai dengan peraturan-peraturan yang ada,” tegsnya.
Dikesempatan yang sama Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Labuhanbatu Friska E. Simanjuntak, SKM, MKM, mengatakan Indonesia masih menghadapi permasalahan gizi yang berdampak serius terhadap kualitas sumber daya manusia.
Salah satu masalah yaitu kekurangan gizi yang masih cukup tinggi di Indonesia terutama masalah pendek (stunting) atau kurus (wasting) pada balita serta masalah anemia dan kurang energi kronik pada ibu hamil.
Friska juga menjelaskan, masalah kekurangan gizi pada ibu hamil ini dapat menyebabkan berat badan , bayi lahir rendah dan kekurangan gizi pada balita termasuk disebut stunting.
“ Pengertian dari Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1000 hari pertama kehidupan, stunting mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak. Anak stunting juga memiliki resiko lebih tinggi menderita penyakit kronis di masa dewasa akibat kekurangan gizi pada 1000 HPK bersifat permanen dan sulit untuk diperbaiki,” jelasnya.
Kegiatan tersebut turut hadir Kaban Bappeda Kabupaten Labuhanbatu Hobbol Z. Rangkuti, yang juga anggota dari TPPS ,yang mana dalam kesempatannya Hobbol menyampaikan pemaparannya terkait langkah yang harus dilakukan untuk memenuhi cakupan presentasi penurunan stunting di Kabupaten Labuhanbatu.
Dalam aksi kali ini di ikuti oleh Dinas Kesehatan, PMD, BP2KB, Bappeda, para Camat dan Kepala Puskesmas. Sekabupaten Labuhan batu .
Penulis : Moy
Editor :Admin/Red